Saya jadi trenyuh dibalut lagu cauntry yang melirik Aceh sampai Papua. Indonesia Raya ini kaya. Janganlah salah urus dan kelola hanya demi sepeser rupiah. Janganlah 270 juta nyawa rakyat kita digadaikan! Merah Putih dilumpuri kotoran comberan. Janganlah. Jangan!
Lalu apa yang bisa kita lakukan? Lagu Iwan Fals menyiratkan perlawanan seniman. Kami juga sudah teriak-teriak lewat lagu Elang Khatulistiwa bersama Grup Band papan atas Nusantara–Arwana. Lewat pantun dan syair pada 16/12/20 menembus Unesco sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke PBB karena keindahan sastra maupun isi universalitasnya. Tujuannya menyatukan bangsa yang masih bingung mau berbuat apa di masa Pandemi Covid-19 yang Presiden RI menitahkan “salib di tengah tikungan” untuk bangkit menjadi adidaya? Kita kembali ke Republik: Dari rakyat. Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat. Kita berbuat untuk merawat dan meruwat NKRI harga mati ini.
Rakyat harus bersuara. Harus bisa menentukan pilihannya. Harus bisa mengatur dirinya sendiri dan berkuasa demi keadilan dan kemakmuran bersama. Makmur sejak Aceh hingga Papua. Negara ini harus dikuasai orang-orang baik yang bisa mengibarkan kembali merah putih dan “bangunlah jiwanya – bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”.
