Kami jumpa pertama kali di aula serbaguna HMI Cabang Pontianak yang mana kerap kami “dibantai” lewat dinamika kelompok yang menyeramkan. Betapa tidak seram? Kami dibagi dalam kelompok-kelompok tertentu. Ditugasi membaca buku dan membuat makalah. Makalah itu ditampilkan dengan urut-urutan undian. Kata Zulkarnain Nasution–MOT (Master Of Training) saya di era Ketua Umum HMI Cabang Fanshurullah Asa, “Bahwa Anda akan membawa nama baik HMI di hadapan organisasi karya pemuda dan sejenisnya, se-Kota Pontianak. Ada Kosgoro. Ada AMPI, KNPI, bahkan PMKRI. Oleh karena itu dipesankan dengan amat sangat agar menguasai teknik persidangan. Misalnya bagaimana palu diketuk satu kali, dua kali, tiga kali. Kemudian bagaimana moderator bersikap, sekaligus bagaimana tema dihantarkan kepada narasumber. Begitupula dengan notulen.
Penampilan kami biasanya kacau balau karena audien ribut luar biasa. Jalan keluarnya bukanlah palu yang diketuk untuk minta perhatian audien agar diam melainkan membaca ta’audz, yakni kalimah bertuah, “A’udzubillahiminasy-syaithonier-rojiem.” Artinya aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk!
Hasilnya lumayan. Audiens sejenak terdiam. Demikian karena mereka takzim mendengarkan ayat Quran yang mulia. Di mana setiap orang-orang yang beriman akan diam manakala ayat-ayat Tuhan tersebut dibacakan.
