Proses internalisasi materi ajar tersebut memudahkan transformasi penanaman pola pikir dan karakter kepada anak didik. Transformasi pendidikan tersebut akan memberi kekuatan ingatan apa yang diajarkan kepada guru-guru mereka.sebagaimana ingatan sekarang ini kepada para guru masa dulu yang pernah mendidik. Pak Ayub tampaknya memandang bahwa transformasi pendidikan tidak sekadar ranah tatap muka, tetapi ruang tatap hati demi membangun karakter.
Kenangnya, ingatan kepada guru-guru masa lalu terpumpun pada penanaman karakter, sikap, dan konsep pola pikir. Sikap mental itu membekas dan berpengaruh besar dalam bersikap pada saat ini. Justru kenangan itu tidak semata kepada pemberian nilai tinggi, mengajarkan menulis tegak bersambung. Oleh karena itu, ruang tatap hati berdampak panjang (long life) bagi seorang murid kelak ketimbang ranah tatap muka yang bersifat sementara.
Menarik dalam ungkapan perspektif pendidikan Pak Ayub terdapat penyebutan istilah menulis tegak bersambung, istilah yang bisa jadi sudah kurang akrab dalam pendidikan era sekarang ini. Dapat dimaklumi karena metode ini sudah tergeser oleh keberadaan perangkat elektronik yang memudahkan untuk menulis, seperti komputer jinjing (laptop). Sementara itu, menulis tegak bersambung berdampak sensor motorik kasar dan halus pada anak didik.
