Opini

OSO, Sukadana dan Sail Selat Karimata

OSO, Sukadana dan Sail Selat Karimata

“Saya makan enak di sini. Tidur? Kamar tak perlu dikunci. Biar saja. Namun tak ada barang sekecil apapun yang hilang,” tambah OSO yang saat itu sedang berkain sarung, baju koko putih tanpa kerah, dan peci hitam. Ia makan nasi dengan piring putih di pojok kiri rumah, teras, di bawah kanopi, khas gaya kampung. Saya sering melihat orang-orang kampung masa lalu makan di teras depan rumah seraya menengok orang-orang yang lewat. OSO menikmati hal itu di Sukadana, dan tak bisa dia nikmati romansa itu di Jakarta. Maka setiap tahun OSO pulang kampung.

Berkurban belasan sapi di setiap Idul Adha, dan berbagi uang kertas baru dan licin kepada fakir miskin dan anak-anak terlantar di momentum Idul Fitri. Dan semakin bertambah usianya, semakin tampak OSO bakti kepada Sang Khalik. Spiritualitas kian menampakkan kualitas. Tak heran dia “ngebet” merehab Masjid Raya Mujahidin–dan kini tercatat sebagai salah satu dari enam masjid megah di Indonesia–juga membangun Masjid Oesman Alkhoir (Oesman yang baik) di Sukadana. Masjid ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. sama halnya dengan Masjid Raya Mujahidin.