Kemudian dia tumbuh di Kota Pontianak serta berkarir di ibukota, Jakarta. Ia melanglang buana tidak hanya Nusantara, tapi sampai ke Amerika. Ia kendalikan tali temali bisnisnya dari gedung pencakar langit, DKI Jakarta. Tak sedikit kisah yang “macam-macam” tentang dirinya sejak kecil dan remaja itu sehingga menjadi bumbu–dan perlu dicek serta ricek kebenarannya–sebab maklumlah pelisanan masyarakat banyak lebih-lebihnya. Namun kesemua itu dia pungkasi dengan kepemimpinan bangsa yang majemuk, heterogen, plural. Prilakunya kini jadi contoh dan teladan. Ia secara akademis juga meraih gelar doktor honoris causa sekaligus “guru besar” dalam kehidupan kita.
OSO melewati masa kecil di Sukadana bersama seorang anak yang kelak menjadi Gubernur Kalbar. Cornelis. Cornelis saat itu ikut ayahnya, polisi. Djamin Indjah namanya. Polisi berpangkat rendah. Sedangkan OSO ikut ayahnya pula. Ayahnya bukan polisi, tapi berkawan dengan Djamin Indjah. Ayah OSO saudagar.
OSO – Cornelis berteman sebagaimana ayah dan ibundanya. Lalu, OSO – Cornelis yang kini sama-sama memimpin di levelnya masing-masing, kerap kerjasama. Di mana ada “chemistry” di antara keduanya sehingga bisa “mengemas” Kalimantan Barat sebagai “berpengaruh”, dus mampu mengambil perhatian Pemerintah Pusat untuk menetapkan Selat Karimata sebagai agenda besar internasional pelayaran.
