Hamli mengakui bahwa ia suka akan dakwah Ustadz Abdul Somad. Sama dengan saya. Saya juga suka dengan model dakwah UAS yang ringan, sesekali diselingi humor, dan dia menguasai 4 imam madzhab. Wajar ulama asal Riau ini juga disukai jutaan umat di Indonesia. Sewaktu tampil di Masjid Raya Mujahidin Pontianak beberapa bulan lalu, puluhan ribu jamaah hadir dalam subuh akbar. Kehadiran jamaah itu laksana shalat Idul Fitri. Adapun uraiannya tetap sejuk, segar, tak ada menyentuh kekhalifahan seperti dimaksud mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi lain.
“Tokoh idola seperti UAS mesti kita rangkul agar dakwahnya turut menyejukkan dari poin global dan nasional di atas,” kata Hamli. Sebab ulama yang tak jarang “salah tangkap” perihal khilafah menyebabkan terjadinya keresahan. Hamli menyebut beberapa organisasi yang berplatform khilafah islamiyah.
Menurut Hamli, dari tayangan youtube, ada beberapa kali ceramah UAS menyoal khilafah yang dinilai keras. “Hal ini berbahaya,” urainya. Tetapi Hamli juga menyambung, klarifikasi dari UAS.
Begitu Hamli menguraikan soal khilafah tersebut di atas, seorang ketua FKPT membacakan portal berita, bahwa UAS ditolak di Bali. Tak pelak seisi ruangan menjadi geger. “Baru saja saya bicara, sudah kejadian di Bali,” timpal Hamli seraya berharap situasi segera kondusif.
