Opini

Prof Syarif di Mata Awak Media

Prof Syarif di Mata Awak Media

Ketika menjemput di kediamannya yang sederhana di Wijayasari itu, Prof Syarif mengenakan jas warna abu-abu, celana panjang hitam dan dasi panjang warna merah. Dia sudah bersepatu dan siap untuk dijemput. Namun tiba-tiba telepon di antara kamar, ruang keluarga dan ruang tamu berdering. Ketika itu telepon masih analog atau konvensional. Pesawat telepon masih pakai nomor yang diputar. Suara ring tone-nya pun memang dering. Kring. Kriiiing. Kriiiiing. Apa yang terjadi? Prof Syarif yang sudah bersama saya di depan pintu arah teras balik badan. Ia tidak melangkah gontai ke arah telepon, tapi nyaris berlari. Saya mengulum senyu melihat cara seorang guru besar memperlakukan telepon masuk seperti itu. Lalu saat usai bicara di telepon, saya bertanya, “Prof, kenapa menyambut telepon terburu-buru? Seperti hendak berlari?” Beliau pun menjawab, “Orang menelepon berarti perlu. Kita menghargai waktu mereka,” katanya. Nah, di sini saya belajar soal menghargai waktu. Dan memang, Prof Syarif menyelesaikan studi S2 dan S3-nya semua di Amerika Serikat dan tepat waktu! Dengan demikian beliau “seiya-sekata”. Menyatu antara kata-kata dan perbuatannya. Maka di situ pula beliau disegani di lingkungan keluarga sampai kelas-kelas yang diampunya.