Opini

Prof Syarif di Mata Awak Media

Prof Syarif di Mata Awak Media

Saya masih ingat pada tahun 1993 kami bekerjasama. Saya, Syafaruddin Usman dan Muhammad Nur Hasan menulis biografi H Mawardi Ja’far sang penggagas dan unsur utama pendiri Masjid Raya Mujahidin, Prof Syarif bertindak sebagai editor. Di manuskrip tulisan kami, beliau mengedit dengan telaten dan teliti. Banyak sekali corat-coret dengan pena bertinta hijau agar mudah diketahui untuk diperbaiki. Koreksi itu tak terkecuali soal bahasa. Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Di sana pula saya ikut belajar tentang struktur kata dan kalimat. Sekaligus perbedaan antara bahasa ilmiah dan fiksi. Buku kolaborasi itu kemudian terbit sebagai menandai dimulainya Untan Press. Sayang Untan Press kurang tumbuh subur, berbeda dengan STAIN Press atau IAIN Press bahkan Club Menulis IAIN Pontianak. Padahal penggerak di sana pada umumnya alumni Untan. Hal ini memprihatinkan, sebagaimana Prof Syarif kerap kali mengeluhkan–walaupun beliau tak perlu gusar karena juga mengajar di IAIN. Dengan demikian kemajuan IAIN juga bagian dari kontribusi beliau. Lihat misalnya Rektor IAIN meraih gelar doktor pun dalam bimbingan Prof Syarif.