Opini

Provokasi Politik dan Munculnya Hadis-Hadis Palsu

Provokasi Politik dan Munculnya Hadis-Hadis Palsu

Oleh: Wajidi Sayadi

Khalifah Ustman bin Affan Dibunuh oleh Pemberontak karena Provokasi Politik dan Berita Hoax (1)

Hari Ahad ini menyampaikan mata kuliah Studi Sunnah pada Program Pascasarjana IAIN Pontianak dengan materi pembahasan yang didiskusikan melalui makalah mahasiswa tentang Urgensi Sanad dalam Studi Hadis. Keberadaan sanad suatu hadis menjadi penentu sahih atau tidaknya suatu hadis. Imam Bukhari seorang periwayat dan mukharrij hadis lahir 184 tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW. Lalu bagaimana imam Bukhari bisa meriwayatkan hadis Nabi SAW.? Semuanya karena melalui sistem sanad. Proses pelacakan sebuah hadis untuk mengetahui kualitasnya berawal dari sanadnya. Ketika ada suatu ungkapan yang berbahasa Arab, diklaim sebagai hadis, tapi ternyata tidak ada sanadnya, itu artinya bukan hadis. Jika tetap disebut sebagai hadis, maka itulah namanya hadis palsu, karena tidak ada sanadnya.

Pertanyaannya, sejak kapan pengetatan sistem sanad mulai diberlakukan dalam kajian hadis? Salah satu jawabannya adalah sejak munculnya masa Fitnah, yaitu masa kekacauan, fitnah, kebohongan, hoax merajalela dan terviralkan, saling menjatuhkan, saling menjelekkan, caci makian seperti dianggap biasa, antara satu dengan lainnya sesama umat Islam, terutama karena provokasi politik, pada masa akhir pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan.