Opini

Provokasi Politik dan Munculnya Hadis-Hadis Palsu

Provokasi Politik dan Munculnya Hadis-Hadis Palsu

Pendukung khalifah Ali bin Abi Thalib merekayasa cerita atas nama Nabi Muhammad SAW. seolah-olah nabi Muhammad bersabda tentang dukungan dan kemuliaan Ali bin Thalib dalam berkuasa. Sementara pihak pendukung Muawiyah juga begitu membuat hadis-hadis palsu tentang keutamaan Mua’wiyah. Di sinilah mulai bahasa agama, bahasa dakwah dipakai dan diviralkan tapi tujuan utamanya hanya kekuasaan politik. Provokasi politik menggunakan bahasa agama. Tidak mengherankan ketika tampil di hadapan massa, bukan bahasa dakwah yang santun dan sopan dipakai, tapi orasi politik dengan semangat mempengaruhi orang lain seperti apa yang diinginkan. Inilah masa fitnah, masa kekacauan dan masa ujian yang berat bagi para ahli agama, para tokoh agama harusnya lebih berhati-hati menyikapi.

Pada masa inilah kemudian, diberlakukan sistem sanad dalam proses periwayatan hadis. Setiap kali ada yang mengaku meriwayatkan hadis, pasti ditanya dan tidak akan diterima hadis itu kecuali ada sanadnya yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Di sinilah muncul pernyataan para ulama, misalnya Muhammad ibn Sîrîn (110 H/728 M) menyatakan:

إِنَّ هٰذاَ الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ

Sesungguhnya pengetahuan (sanad hadis) ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa sumbernya kamu mengambil agamamu itu.”

`Abdullâh ibn al-Mubârak (181 H) menyatakan:

اَلإْسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ لَوْلاَ اْلإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَاشَاءَ