Pantun Minangkabau yang baik adalah yang baris isinya (penggalan kedua) menyuguhkan metafora yang pekat dan penuh dengan makna kiasan, sepagaimana dapat dikesan dari kutipan pantun 8 larik di atas (Empat baris isinya mengiaskan seorang lelaki/wanita yang merasa sedih dan selalu terbayang pada mantan kekasihnya [disimbolkan dengan ayam atau burung) yang kini sudah direbut oleh orang lain [bakukuak dalam tangan urang]).
Apa yang ingin saya katakan adalah bahwa generasi sekarang harus diajarkan (melalui sekolah atau lembaga-lembaga terkait) bagaimana menciptakan pantun yang baik dan bermutu. Jika tidak, warisan dunia takbenda dari alam Melayu-Nusantara yang sudah diiktiraf UNESCO itu akan rusak citranya. Sebagai cara menyampaikan pesan yang khas dan bersifat indirectness, pantun juga harus coba dipopulerkan kembali kepada generasi muda kita, di tengah kecenderungan cara berbahasa orang sekarang yang makin kehilangan kesantunan.
Leiden, 27 Desember 2020
(Penulis, dosen Leiden University)
