Opini

SJ 182 “Pulang Kampung”

SJ 182 “Pulang Kampung”

Kata pulang kampung boleh jadi adalah bahasa sehari-hari, isyarat rindu kampung halaman.  Atau istilah yang populer, mudik.  Ujaran yang melambangkan kegembiraan dan kesenangan. Terlebih lagi bagi anak-anak,  mereka sangat bahagia,  kalau pulang ke kampung nenek dan kakeknya.  Dalam benak mereka dipenuhi dengan imajinasi yang menyenangkan.  

  
Namun ternyata,  kata-kata itu juga isyarat atau pertanda, bahwa kampung yang dimaksudkan adalah kampung hakiki yaitu “kampung akhirat” (darul akhirat).   Kampung tempat kita berasal.  Jadi ternyata pulang kampung adalah isyarat perpisahan terakhir.  Karena,  pulangnya adalah kembali kepada pangkuan Sang Pencipta.

“Kampung akhirat” merupakan kampung sejati kita,  sementara di kampung dunia hanyalah sementara dan sekedar “permainan dan senda gurau”. Kampung akhirat adalah kehidupan yang lebih baik dan utama,  karena disanalah kehidupan yang abadi.  

“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan kampung akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa.   Maka, tidak kah engkau memahaminya? ”  (Qs.  Al-An’am:32)

Selayaknya demikianlah jika kita memahami hakekat kesejatian diri kita.   Kita berasal dari Sang Pencipta,  maka kepada-Nya pula kita kembali.   Innalillah wa inna ilaihi rajiun.  Dalam Al Quran surat Al-Fajr: 27-30) menyatakan:

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Maka masuklah kedalam golongan Hamba-hambaKu. dan masuklah ke dalam surga-Ku”.