Jiwa yang tenang, asal dari kejadian kita. Ruh dan “an nafs” (jiwa) yang ditiupkan ke dalam raga, mewarisi ketenangan yang diserukan kembali kepada sang Empunya.
Setelah sekian lama pergi meninggalkan “rumah atau kampung” asalnya, tentulah kerinduan amat dalam terasa (homesick) . Ketika saat kembali telah tiba, maka suka citalah sang ruh dan jiwa, ingin segera berjumpa dengan yang Empunya. Seperti kegembiraan anak-anak hendak bersua dengan kakek neneknya, melihat sawah dan ladang, berenang di sungai dan kolam.
Oleh karenanya, jika paham kita akan hakekat asal dan tujuan hidup (sangkan paraning dumadi), maka seyogyanya kematian tiada lagi menakutkan. Biarlah air mata tetap mengalir, biar tangis pecah berderai, karena wajar dan manusiawi. Namun yakinlah, ini semua hanya suratan Taqdir Sang Maha Kuasa (Qs. At-Taghabun:11). Cara terbaik kita menghadapinya, bersabar dan berserah dirilah sepenuh jiwa kepada Allah yang Maha Kuasa.
Mereka yang pulang, insyallah segera berjumpa dan menghadap kepada naungan Tuhan YME. Kita hanya patut berbaik sangka, “gelar syahid” insyalah predikat yang mereka terima. Oleh karenanya, lepaslah dengan ikhlas dan berserah diri. Agar perjalanan pulang, berjalan lapang.
Nasehat apa yang perlu kita timba dari segala peristiwa dan setiap musibah, ini yang sebenarnya lebih utama bagi hamba yang belum sampai ajalnya. Berikut beberapa i’tibar kepada kita, yaitu:
