Opini

Upaya “Cross Check” Fakta Sultan Hamid II

Upaya “Cross Check” Fakta Sultan Hamid II

Tokoh Uncak Kapuas ini saya pikir dikenal para tokoh Dayak Kalbar karena kefasihan hukum adatnya, yakni Baroamas Djabang Balunus Massuka Djanting. Ada pula sosok pria istimewa yang digelari dengan “kamus sejarah berjalan” alumni Sanatadharma, yakni Drs H Soedarto seorang guru tiga zaman yang fasih berbahasa Belanda dan khatam buku-buku Belanda. Ia mengingatkan ada buku yang diterjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia karya Dr Bohm. Dr Bohm ini pernah pula menjadi sekretaris Hamid (sayang sampai kini terjemahan Soedarto belum ditemukan–entah siapa yang mengambil dan belum mengembalikannya–namun Pak Darto bercerita soal kepemimpinan DIKB/Daerah Istimewa Kalimantan Barat sehingga kita jadi paham selain Atjeh merupakan daerah istimewa serta Djogjakarta, sesungguhnya Kalimantan Barat juga Daerah Istimewa lantaran dibelah garis khatulistiwa, sungai terpanjang di Indonesia, berbatasan langsung dengan Malaysia/LN, dan centeral Indonesia (antara Aceh hingga Papua).

Kelak di dalam Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila Sultan Hamid memasukkan unsur rantai yang diambil dari kalung etnik Dayak Kapuas Hulu berupa ikatan kotak dan lingkaran yang mencerminkan persatuan antara Adam dan Hawa / pria dan wanita, atau antara kekuatan dan kasih sayang. Kemudian garis tengah perisai yang garis hitamnya lebih tebal mencerminkan Pontianak Kota Khatulistiwa sebagai tanah kelahiran Sang Perancang. Jang Moelija Sultan Ketujuh Pontianak Hamid Alkadrie II.