Saya mengenal sosok yang idealis. Jika dapat rezeki –tentu yang halal, beliau berbagi. Saat saya diminta belanja makanan, berapa pun sisa harus dikembalikan.
“Kita harus jujur. Jujur itu modal penting,” begitu beliau mengajarkan prinsip hidup.
Karirnya di Kompas didedikasikan untuk keberpihakan kepada rakyat kecil. Zis dan Kompas mengupas monopoli jeruk di Kalbar. Banyak tekanan yang dialami dalam hal ini.
Pak Zai juga terlibat dalam meliput konflik tahun 1990-an di Kalbar. Beliau meliputnya dengan hati-hati agar konflik antar kelompok etnik terkendali. Melalui tulisan yang kritis banyak pihak yang tak nyaman.
Di tengah situasi itu dia diciduk melalui kasus mandau hias. Mandau hias di dalam mobil civic merahnya, dijadikan bukti untuk menjeratnya dengan undang-undang darurat. Kasus yang menyeretnya ke sel tahanan. Beliau merasa tidak ada yang salah tetapi tuduhan bersalah dilontarkan dan beliau diproses. Pada saat itu sempat terungkap betapa beratnya usaha berjuang untuk tetap kukuh. Dukungan yang diharapkan tidak diperoleh.
Betapa leganya beliau kemudian ketika dinyatakan tidak bersalah. Saya tidak pernah tahu apakah kompensasi yang beliau dapatkan dari penghukuman sebelumnya.
