Opini

Zainuddin Isman, Dayak Islam dan Korban Kerusuhan Etnik

Zainuddin Isman, Dayak Islam dan Korban Kerusuhan Etnik
Zainuddin Isman (ketiga dari kiri) saat tampil sebagai moderator dalam launching buku biografi Oevaang Oeray di Hotel Mulia, Jakarta. Tampil sebagai narasumber Oesman Sapta, Leo Batubara dan sejarawan JJ Rizal.

Suatu ketika dalam perjalanan Pontianak-Kuala Lumpur, Pak Zai terserang semacam angin duduk. Sempat masuk rumah sakit di Kuching. Sembuh.
Setelah selesai program master, beberapa tahun kemudian beliau melanjutkan studi doktoral. Di tempat yang sama dan pembimbing yang sama.
Kala itu saya sudah stay di Pontianak. Karena jarak dan kesibukan itu, kami jarang berkomunikasi. Hanya sesekali. Kabar beliau juga hanya sesekali saya dengar.

Tambahan lagi, Pak Zai juga sibuk di Jakarta. Katanya ada bisnis bersama temannya. Beliau juga sibuk untuk urusan penelitian dan lain sebagainya.
Terakhir kami bertemu lebih setahun lalu ketika menggarap buku feschrift Prof. Dr..Syarif Ibrahim Alqadrie. Pak Zai berperan besar dalam proses editing. Beliau menunjukkan tanggung jawab untuk mempersembahkan buku itu. Saat launching di Rektorat Untan, Pak Zai menyampaikan ucapan.

Dari pertemuan itu saya bisa melihat fisik beliau menyusut. Tanda hitam di sekitar mata makin ketara. Tapi, semangatnya tetap tinggi.
Sepekan setelah lebaran, dalam tidur saya terjumpa beliau. Pertemuan itu membuat saya terniat mengunjunginya.

Tetapi, hujan hari itu membuat niat tertunda. Lalu, kemarin, Dr. Zulkifli, mengirim WA menyampaikan kabar duka dari group sebelah: Pak Zai sudah berpulang ke rahmatullah. Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Maafkan saya Pak Zai…