Pak Massuka ingatannya luar biasa clear. Kami punya banyak rekaman testimoninya. Termasuk guru besar seperti Prof Dr Syarif Ibrahim Alqadrie, Prof H Slamet Rahardjo, SH, Dr Hermansyah, Jumadi, S.Sos, M.Si, Drs H Soedarto, budayawan H Abdul Halim Ramli, Sultan, bahkan putra Sultan Hamid Max Nico. Tak terkecuali Adnan Buyung Nasution yang kala itu mahasiswa dan hadir di persidangan SH.

Jalur lain, tentu ekspose, riset mesti tetap berlanjut walaupun tanpa dana. Seperti Film Dokumenter SH sedang digarap sineas muda Kalbar. Mungkin jalur ini akan efektif. Efektif membuka “buta” mata sejarah anak-anak bangsa–cucu cicit nusantara–sedulur Ibu Pertiwi.
Film efektif dilansir ke You Tube sehingga bisa disaksikan dan dikomentari, dikritisi oleh siapa pun juga. Tentu sesuai fakta yang nyata. Bukan argumentasi serta ‘like and dislike’ semata.
