Politik

Kesaksian H Gusti Syamsumin–Berjuang untuk Sultan Hamid dari Senayan

Kesaksian H Gusti Syamsumin–Berjuang untuk Sultan Hamid dari Senayan
Foto tahun 2015 di kediaman H Gusti Samsumin, kawasan Perdana, Kota Pontianak.

Apa lacur nasi telah menjadi bubur? Tidak. Pak Sam usul agar buku biografi politik SH maupun tesis sejumlah ilmuan yang hadir belakangan–termasuk disertasi doktoral–diperjuangkan ke Mahkamah Konstitusi. Sejarah SH mesti diluruskan. Dan perlu ada “roadmap” menjalankannya. Misalnya sebagai langkah kecil-kecil, “Pangdam Tanjungpura ‘diagak’e’. Dijelaskan duduk perkaranya. Mungkin dalam pertemuan nasional kelak–di jajaran TNI–Pangdam bisa bisik-bisik dengan Panglima TNI, Kapolri, bahkan Menkum maupun Presiden. Langkah dan ikhtiar apapun perlu ditempuh oleh para pihak yang tahu “kebenaran” sejarah. Bukankah mereka “wajib” meluruskannya?

Pak Syam bersedia jika diajak ke mana pun untuk menjadi saksi. Hal senada diungkapkan saksi sejarah yang kini masih segar-bugar walau fisiknya tak dapat dibohongi sudah keriput–Baroamas Djabang Balunus Massuka Djanting. Pak Djanting diundang SH ke Hotel Des Indes. Pertemuan membahas usul dan saran apakah gerangan yang laik menjadi simbol negara?

Sebagai tokoh adat Dayak yang “cerdas” Massuka Djanting terus terang mengusulkan burung Enggang. Kemudian Panembahan Sintang Moehammad Ade Djohan mengusulkan Burung Ruai. (Di Kota Pontianak sekarang eksis Ruai TV 🙂 Mungkin perlu juga ada Enggang TV wk wk wk