Pak Syam memang khas. Dia selalu menyebut dirinya di depan orang lain dengan kata Bapak. Barangkali terbiasa. Sebab beliau berlatar belakang seorang guru. Bahkan memimpin SMPN 3 menjadi sekolah teladan. SMAN 1 Pontianak juga bonafide. SMPN 1 yang “bobrok” jadi idola, dan seterusnya beliau menjadi birokrat di Dinas/Kanwil PDK Kalbar maupun PGRI. Saya pikir beliau “sukses” memimpin DPD Golkar dan DPRD Kalbar sebelum ke Senayan karena talenta dan kesabarannya sebagai seorang guru. Konstituennya alias muridnya bertebar-biar di segenap penjuru mata angin. So beliau mudah jadi “wakil rakyat”. Dan beliau vokal. Termasuk melawan argumentasi TNI/Polri soal APRA.
“Hanya satu kelemahan Bapak saat diserang TNI/Polri. Bahwa Bapak tidak punya hasil riset Anshari Dimyati yang mengupas detail dasar hukum dan poin-poin putusan Pengadilan terhadap Hamid terkait pemberontakan APRA yang dipimpin Westerling.” Memang Anshari Dimyati menulis tesisnya di Universitas Indonesia setelah Pak Syam “lengser keprabon mandeg pandito”. Jadi, memang kurang matching…
