Opini

Menelisik “Allochtoon” Indonesia di Negeri Kincir Angin

Menelisik “Allochtoon” Indonesia di Negeri Kincir Angin
Salah satu sudut Leiden Centrum , di depan gedung Waaggebouw di Aalmarkt. Di sini bertemu tiga kanal, yaitu Oude Rijn, de Mare, dan Nieuwe Rijn

*Syafaruddin DaEng Usman

Lebih dari dua puluh tahun sejak Perang Dunia II berakhir, karakteristik mayoritas negara Eropa dihuni oleh masyarakat yang homogen. Namun setelah era 1970-an sampai belakangan, sejak terjadinya gelombang migrasi masyarakat Asia dan Afrika ke wilayah Eropa secara besar-besaran, para migran tersebut telah mengubah wajah kota-kota besar di Eropa seperti London, Berlin, Amsterdam, Paris, Brussel, dan kota-kota besar lainnya, dari yang bersifat homogen menjadi masyarakat yang multikultural, multirasial, maupun multireligi.

Gelombang migrasi ke Wilayah Eropa itu awalnya dalam rangka menjadi pekerja tamu, mencari suaka, mengungsi, dan keinginan untuk tinggal di negara yang mengolonisasi tanahair mereka.

Secara historis, gelombang migrasi pertama di Eropa itu terjadi di era 1950-an, diprakarsai oleh masyarakat dari negara-negara di wilayah Eropa Selatan seperti Italia dan Spanyol yang bermigrasi ke berbagai negara Eropa lainnya dalam rangka menjadi pekerja tamu, guest worker.

Dalam konteks Belanda, pada era 1960-an, saat Perang Dunia II telah berakhir dan menyisakan keruntuhan berbagai infrastruktur sosial ekonomi, serta pada saat industri manufaktur mulai bangkit kembali di negara tersebut, pemerintah Belanda pun mulai merekrut pekerja tamu dari negara-negara di luar Eropa, khususnya negara-negara yang berasal dari Kawasan Meditrania seperti Turki dan Maroko, untuk menjadi pekerja tamu di negara tersebut.

Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *