Lalu bagaimana dengan Kalbar saat ini? Situasi jalan dan pasar dalam amatan beraktivitas sehari-hari dari kemarin sampai Jumat pagi aman-aman saja. Semoga terus bertahan dan kita pertahankan terus. Sebab adagium perang: kalah jadi abu, menang jadi arang tak pernah lekang. Sejarah masa lalu Kalbar kalau terjadi konflik berdarah-darah tetaplah seperti pepatah tersebut di atas. Begitupula wilayah konflik mana pun di Nusantara, bahkan dunia.
Sebagai jurnalis, memang saya melihat ada semacam anomali antara pernyataan pedas di sosial media dengan kehidupan dunia fana. Tetapi seberapa hal itu tetap anomali, saya tidak bisa memprediksi. Suasana panas begini tetap harus didinginkan dengan memahami keadaan masing-masing serta mengedepankan toleransi. Dan setahu saya, para intel dan aparat terus bekerja keras. Mereka menjaga setiap pergerakan.
Di pihak tokoh agama dan tokoh masyarakat pun terlaksana koordinasi dengan baik. Untuk ini masyarakat “bersumbu pendek” perlu disejukkan. Jangan mudah terpancing isu-isu provokatif bernuansa SARA. Sebaliknya kedepankan dialog dari hati ke hati. Tak ada masalah berat yang tak bisa dimusyawarahkan. Apalagi budaya kita setiap pagi: ngopi…
Penolakan masyarakat Dayak kepada Rizieq dan FPI sudah sering kita dengar. Sebagaimana aksi pro dan kontra sebelumnya yang mewarnai Bumi khaTULIStiwa.

Malas nak ribot hanya untuk hal-hal seperti ini, kite kaum “bawah” pade beribot yang kaum “atas” senyap2 jak. 😀
Hidangan Hangat dan Mencerdaskan..