teraju.id, Batu Ampar – Hiruk pikuk penanganan COVID 19 di Pontianak tidak terasa sampai di sini. Dan, bagi “Juragan Kelulut” ini tidak pernah menganggu aktivitas memelihara lebih kurang 85 sarang Kelulut yang dimilikinya.
Malam itu,Jumat 6 November 2020 pukul 19.15 rombongan LP2M sengaja meluangkan waktu untuk mengunjungi rumah juragan kelulut Batam (Batu Ampar). Entah siapa yang memulai menggunakan “Batam” untuk Batu Ampar. Sama halnya dengan ” PARIS” untuk Jalan Parit Haji Husin, “Tanray” untuk Jalan Tanjung Raya untuk jalan yang ada di Pontianak dan lainnya. Penulis pada kesempatan ini tidak akan membahas hal tersebut namun ingin berbagi pengalaman tentang kelulut sesuai tema tulisan ini.
Mat Siri, 50 tahun, seorang peternak Kelulut di Batu Ampar. Tidak seperti madu Kapuas Hulu, Ketapang, Sintang,dan lainnya, madu Kelulut tidak begitu dikenal masyarakat. Namun demikian khasiatnya menurut sebagian orang mengalahkan madu-madu lainnya di atas ucapannya membuka perbincangan kami. Beternak Kelulut juga tidak sesulit yang disampaikan orang. Kuncinya telaten, lingkungan tempat pemeliharaannya diusahakan sebisa mungkin jauh dari panas matahari dan asap. Sejak merintis usahanya banyak pengalaman,ilmu yang didapatkan di samping madu dan uang tentunya. Wilayah Batam (Batu Ampar) yang dikelilingi laut dan hutan mangrove yang masih terjaga memudahkannya untuk mendapatkan lebah. Kuncinya kalau sudah mendapatkan pohon mangrove yang berusia tahunan dan lebah sarang pada batang pohonnya,maka jangan diambil pada siang hari karena pada siang hari waktunya lebah untuk mencari makanan. “Waktu yang ideal untuk mengambil lebah yang akan diternak yaitu pada malam hari,” ujarnya lebih lanjut.
