Berita

Konfirmasi Mencium Hajaral Aswad

Konfirmasi Mencium Hajaral Aswad
Suasana di kawasan Hajarul Aswad dan pecahan batu yang semula utuh menjadi tujuh atau delapan pecahan.

Kisah Hajaral Aswad saya dengar tahun 1982 ketika bapak-emak pulang haji. Emak dapat mencium Hajaral Aswad dengan bantuan Asykar penjaga. “Siti Rahmah. Siti Rahmah,” teriaknya. Lalu emak dengan khusuk mencium seraya berdoa.

Kata emak, dia melihat kalimatullah bewawarna hijau. Sementara bapak selama sebulan di Mekah tak kunjung dapat mencium tonggak sejarah Rasulullah digelari Al Amiin karena sukses menyatukan kafilah terbelah dengan simbol pemasangan kembali Hajaral Aswad lewat aksinya yang adil dan benar benar benar melalui peletakan Hajaral Aswad di atas kain sorban beliau yang agung, lalu seluruh pimpinan kafilah atau suku memegang sudut dan pinggiran kain. Adapun Nabi, beliaulah yang meletakkan kembali ke sudut timur baitullah.

Bapak tak kalah akal. Sebagai guru agama Islam beliau bilang ke kami-kami anaknya, “Bapak memang tak diberikan rizki mencium langsung Hajaral Aswad, tapi dengan menyentuh pun sudah sama nilainya. Karena Nabi pun pernah menyentuhnya dengan tongkat. Bahkan sekedar isyarat dengan melambaikan tangan, mengucap Bismillahi Allahu Akbar pun, lalu mengecup tangan, sama juga mencium Hajaral Aswad.”

Masya Allah. Betapa indahnya. Bahwa Islam itu mudah.