Menariknya, sejak berdiri 5 tahun lalu, FKPT Kalbar dalam setiap kegiatannya tidak pernah luput dari sajian kesenian dan kebudayaan. Oleh karena itu diserap oleh BNPT sehingga lahir kegiatan nasional bertajuk sastra dan budaya.
“Gaya mengkritik kekuasaan dan kemapanan yang masuk lewat jalur sastra sehingga dapat diterima oleh semua lapisan massa, ibarat kata dicubit tapi tidak sakit. Seni mencubit tapi tidak sakit ini yang di era netizen sekarang makin lentur dan luntur. Bahkan yang menyebar secara bar-bar adalah berita bohong alias hoax. Ini sangat berbahaya. Bisa memecah belah persatuan dan kesatuan anak-anak bangsa. Bisa merontokkan cita-cita kemerdekaan yang diproklamirkan founding fathers kita. Bahkan bisa menghilangkan banyak harta dan nyawa,” tegasnya.
Sekarang, kata Ketua FKPT, kita dibelit penyakit intoleransi bahkan radikal terorisme sehingga mengancam NKRI bahkan kehidupan umat manusia itu sendiri. Oleh karena itu pendekatan budaya sangat dibutuhkan. Soft approach. “Cara-cara sastrawilah yang ingin kita kembangkan dalam penghayatan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.”
“Kepada para pujangga dan sastrawan yang hadir pada kesempatan kali ini saya berharap, modal sosial pada sastra bisa dipolarisasikan. Perlu hadir ke tengah masyarakat,” tambahnya.
