Jakob Oetama juga menegaskan bahwa Kompas tergerakkan oleh visi tersebut. Yaitu penempatan manusia dan kemanusiaan, lengkap dengan cobaan, aspirasi, permasalahan, hasrat, keagungan maupun kehinaan, sebagai faktor sentral dalam nafas pemberitaan Kompas. Ditegaskannya bahwa perbedaan tidak menjadi sumber konflik fisik atau pelampiasan emosional. Menurut Jakob, perbedaan di Kompas dijadikan pangkal tolak serta proses mencari mufakat dan proses untuk bekerjasama bagi kepentingan bersama.
Visi itu dijadikan doktrin yang berkembang terus, seiring dengan pergulatan, perbedaan pendapat, perbedaan kepentingan serta tarik menarik dinamika maupun kekuatan. Visi dan nilai-nilai dasar itu memang sangat ideal dimiliki Kompas sebagai lembaga yang selalu ‘risau’ dan berupaya mengingatkan pihak-pihak mapan. Jakob secara jujur mengakui bahwa belum visi tersebut menjadi kenyataan. “Ía belum segalanya. Ia belum sebuah buku yang sudah selesai. Ia sekedar prinsip pokok dan sisi dasar yang menjadi kerangka acuan,” tulis Jakob dalam brosur tersebut.
Ternyata, tulisan Jakob Oetama itu dipublikasikan dalam kurun waktu yang hampir bersamaan dengan waktu percakapan almarhum dengan saya. Percakapan yang saya kutip di bagian awal tulisan ini. Waktu itu, memang pandangan saya sangaat berbeda dengan pandangan Jakob Oetama. Karenanya, ia meminta saya mengundurkan diri dari Kompas.
