Di akhir dekade 1980-an, tiras Kompas bertahan sekitar 450 ribu eksemplar per hari. Pada 1999, setahun sesudah Jenderal Soeharto mundur, tiras Kompas mencapai lebih dari 600 ribu eksemplar per hari. Penelitian oleh AC Nielsen tahun 1999 menunjukkan pasar Kompas terbesar adalah Jakarta 46,77%, disusul Bogor, Tangerang, dan Bekasi (13,02%) dan Jawa Barat (13.02%).
Tahun 1972 kelompok usaha tersebut mendirikan Percetakan Gramedia dan membentuk PT Transito Asri Media, anak perusahaan yang mendistribusikan buku impor dan lokal pada jaringan toko buku Gramedia. Tahun 1973 PT Gramedia Pustaka Utama berdiri dan PT Radio Sonora Munda mengudara di Jakarta. Pada tahun yang sama, diterbitkan majalah anak-anak Bobo dan tahun 1977 diterbitkan majalah Hai.
Di awal penerbitan Intisari dan Kompas, Jakob Oetama mengurusi editorial, sedangkan PK Ojong menjadi panglima urusan bisnis. Ojong antara lain menggariskan bahwa kelompok usaha mereka tidak boleh menggeluti bisnis bahan pokok dan bisnis pertanahan (sekarang dikenal sebagai bisnis properti). Ojong meninggal mendadak tahun 1980, sehingga Jakob yang sebelumnya hanya mengurusi redaksional, mendadak dipaksa mengurusi aspek bisnis. Jakob dengan rendah hati mengakui pengetahuannya soal manajemen bisnis sangat sedikit. “Tapi saya merasa ada modal, bisa ngemong! Kelebihan saya adalah saya tahu diri bahwa saya tidak tahu bisnis,” ujar Jakob.
Yayasan menjadi PT
