Plesetan Kompas
Pergantian nama ini menimbulkan protes, antara lain dari kalangan warga Medan sebab kompas atau ngompas di sana artinya memeras. Harian Bintang Timur dan Harian Rakyat menjadikannya bahan olok-olok, menulis bahwa Kompas artinya Komando Pastor lantaran pendirinya Partai Katolik. Ada pula yang bilang Kompas artinya Komando Pak Seda. Karena harian itu sering terlambat terbit, Kompas diplesetkan jadi Komt Pas Morgen, artinya “Kompas yang datang pada keesokan harinya.”
“Kami berdua sebenarnya enggan menerima permintaan menerbitkan suratkabar Kompas. Lingkungan politik, ekonomi, dan infrastruktur pada masa itu tidak menunjang,” tulis Jakob Oetama dalam artikel “Mengantar Kepergian P.K. Ojong” (Kompas, 2 Juni 1980). Pada masa awal penerbitan tersebut, jemaat gereja Katolik di daerah-daerah diimbau berlangganan Kompas. Sedang murid-murid di sekolah-sekolah Katolik disarankan berlangganan majalah Anak Bentara.
Edisi Perdana
