Sekitar pukul 08 pagi aku memulai menulis dan merevisi diksi-diksi dan kalimat yang ku anggap kurang tepat dan kaku. Lebih kurang 1 jam aku berhadapan dengan laptop. Ketika istirahat sejenak, aku membuka pesan whatsapp grup “Kampoeng Riset” dikirim oleh pak Zaenuddin. Di situ rupanya ditampilkan gambar acara bedah buku yang ku sebutkan tadi. Ada yang berbeda dari gambar tersebut, aku melihat ada pak Dedy Ari Asfar, pak Yusriadi dan pak Nur Iskandar. Sontak aku langsung menyimpan hasil ketikanku lalu mengambil handuk menuju wc untuk mandi. Iya, aku ingin segera terlibat dalam acara.
Ternyata ada dua buku yang dibedah, buku “Beragama dalam Kebingungan” dan buku karya pak Yusriadi “Ajarkanlah Anakmu Menulis.” Selesai mandi aku bergegas pergi, Apalagi pematerinya adalah mentor sekaligus penginspirasi literasiku selama ini, tidak lain pak Dedy Ari Asfar, semakin bersemangat ku dibuatnya. Pak Dedy karakternya kritis dan sangat mafhum soal tulis menulis. Aku juga mengagumi sosok pak Yusriadi seorang penulis dan dosen di kampus IAIN Pontianak. Walaupun sebenarnya aku sedikit kecewa, belakangan aku menghubungi pak Yusriadi melalui whatsapp dengan maksud meminta endorsement atau penilaian buku karya ku, tetapi tidak ada respon, sekadar dibaca saja. Tak mengapa, aku pikir beliau banyak kesibukan sehingga tak sempat dan atau kelupaan.
