“Katanya Abang ikut trip dengan Pay ya? Bukannya berangkat hari ini?” tanya Hendy. Ia heran, kenapa jam segini saya belum menyiapkan diri untuk berangkat. Justru masih berada di warung kopi.
“Iya, saya bingung nih, ada deadline laporan yang harus dituntaskan. Review dan perbaikan terus berjalan sampai beberapa hari ke depan, dan ada laporan dari dua rekan lain di lapangan yang belum masuk. Sementara saya tidak ingin repot harus membawa laptop dalam trip nanti. Ingin benar-benar menikmati trip ini,” jawab saya.
“Bismillah saja Bang. Tetap berangkat, laptop dibawa, minta sama Allah untuk memudahkan dan melancarkan semua urusan Abang,” saran Hendy, menguatkan saya untuk jangan mundur dari trip ini.
Kata ‘bismillah’ ini seolah menghipnotis. Saya merasakan ada kekuatan baru, menepis keraguan yang beberapa hari ini terus mengganjal. Lima menit kemudian, sambil menyelesaikan segelas kopi saring pahit, saya putuskan tetap berangkat.
“Makasih ya Bro,” kata saya kepada Hendy, sambil menjabat tangannya. Kami berpeukan erat. “Saya berangkat ya. Mohon doanya semoga lancar.” Kemudian saya pamit.
“Hati-hati Bang. Ditunggu tulisannya,” Hendy mengingatkan tentang tugas dari Pay setelah trip nanti.
