Cerita kedua tentang Malaka saya dapatkan dari seorang teman lama di dunia gerakan LSM. Penyakit yang dideritanya mengharuskan ia mesti intensif berobat. Dan Malaka dipilih karena akses ke sana yang relatif dekat, murah, dan peralatan medis di rumah sakit yang canggih dengan harga terjangkau. Layanan dokter juga sangat ramah dan enak diajak diskusi tentang penyakitnya. Bahkan, mereka pun bisa konsultasi via email.
Dan ini yang ketiga. Pertengahan Juli 2019. Notifikasi chat WA masuk di hape saya. Ada flyer dari sahabat rasa saudara, Pay Jarot Sujarwo. Tentang Islamic Trip and Travel Book Project, Kuala Lumpur-Malaka, Syarat: Muslim, lelaki, peserta perempuan wajib bersama mahrom/suami, tidak manja saat travelling, penyuka sejarah Islam, rindu kejayaan Islam. Kita akan ngetrip sekaligus menulis Islamic Travel Book. Don’t miss it! Demikian isinya.
“Siapa tau Bang Herma bisa bantu forward,” sambung Pay.
“Siap. Saya share ya ke beberapa grup ya Pay. Tertarik juga ikutan nih,” balas saya, antusias.
“Yok Bang yok,” dibalas cepat oleh Pay. “Ajak Bang Nur Is juga ya Bang,” sambungnya.
Nur Iskandar nama lengkapnya, adalah jurnalis dan penulis ternama di Kalbar, sahabat kami juga. Dari Pay dan Nur Iskandar ini saya cukup banyak belajar tentang dunia kepenulisan. Saya penikmat karya-karya mereka berdua.
