Kemampuan mengolah informasi menjadi pengetahuannya sendiri tidak cukup dengan yang bersaangkutan ‘melek’ dunia digital (literasi digital). Lebih dari itu, yang ebrsangkutan mesti memiliki “DNA inovator” (Clayton M. Christensen, Hal B. Grgersen, dan Jeffry H. Dyer, 2011).
Ketiga ahli ini bersama-sama melakukan “to put innovative entrepreneurs under the microscope, examining when and how they came up with the ideas on which their businesses were built”. Partisipan terdiri atas: 25 ‘innovative entrepreneurs’, 3000 eksekutif, serta 500 individu yang telah membangun usaha-usaha inovatif dan menghasilkan produk-produk baru.
Ditemukan, ada eksekutif-eksekutif yang menonjol di antara para eksekutif yang lain. Para eksekutif semacam ini disebut memiliki “Innovators’ DNA’. Jika, kala itu Menteri Nadiem berpartisipasi dalam penelitian ini, mungkin juga termasik eksekutif yang memiliki DNA Inovator.
Para eksekutif yang memiliki DNA Inovator ini ternyata memiliki ‘Five Discovery Skills”. Kelima ketrampilaan menemukan itu adalah: ‘Questioning’, ‘Observing’, ‘Networking’, ‘Eksperimenting’, dan ‘Associating”. Kelima ketrampilan ini sudah diimplemantasikan dalam K-13. Walaupun, maaf, salah arah.
