Salah seorang yang dapat dijadikan ilustrasi memiliki DNA Inovator adalah Presiden Joko Widodo (Leo Sutrisno, 2014). Saat kampanye pemilihan presiden tahun 2014, calon presiden Joko Widodo melakukan ‘blusukan’ ke seluruh tanah air. Bertanya (Questioning) tentang apa yang dipikirkan penduduk tentang Indonesia baik saat itu maupun yang akan datang. Tidak hanya bertanya, tetapi juga melihat dengan detail fakta yang terjadi di lapangan (Observing).
Calon presiden Joko Widodo, saat itu, juga menjadi orang pertama yang menjalin hubungan dengan berbagai macam masyarakat, termasuk para seniman dan budayawan (Networking). Calon presiden Joko Widodo juga membuat baju ‘kotak-kotak Jokowi’. Semua warna dasar dijalin menjadi satu garis dari kotak-kotak itu dan diberi makna ‘keharmonisan’ (Experimenting).
Bukan hanya melakukan (doing) keempat ketrampiln itu, calon presiden juga membuat konsep tentang apa yang akan dilakukan dalam masa jabatannya, yaitu ‘REVOLUSI MENTAL’. Walaupun sampai akhir masa jabatan pertama ini, 2019, deskripsi konkrit, yang dapat ditangkap oleh sebagian besar orang belum tampak, istilah ‘revolusi mental’ diterima semua kalangan. Calon presiden juga mampu melakukan berpikir ‘Associating’, menggabungkan berbagai pemikiran banyak menjadi satu konsep yang dapat diterima bersama.
