Opini

Menggugat Kekerasan Paradigmatik

Menggugat Kekerasan Paradigmatik

Berdasarkan beberapa rupa kekerasan di atas,  semua tampak terbungkus rapi dalam budaya,  tradisi,  adat kebiasaan,  bahasa, ilmu pengetahuan dan kebijakan politik.  Tidak ada terma kekerasan seperti memukul,  melukai,  menyiksa,  merampas dan membunuh.  Bahkan tidak jarang korban tidak menyadari dominasi sedang menguasai dan menyudutkannya. Namun implikasinya sama dengan kekerasan,  membuat orang takut, membuat orang gelisah,  merasa tertindas,  merasa dirampas kebebasan dan kemerdekaan,  merasa direndahkan dan dihinakan.   

Daya rusaknya tidak kalah dengan daya rusak akibat kekerasan psikologis dan fisik.  Membuat korban kehilangan kepercayaan diri,  merasa tidak berdaya,  terdominasi dan terampas kebebasan dan kenyamanannya.   Tentu kondisi ini merusak komunikasi dan hubungan sosial yang sehat.   Pada akhirnya berdampak buruk pada perkembangan masyarakat.  

Dari sekian bentuk kekerasan tersebut, ada kekerasan  yang lebih halus lagi, nyaris tidak terdeteksi oleh pelaku dan korban. Yaitu ketika kita menjustifikasi realitas berdasarkan sudut pandang teori yang diyakini.  Terlebih lagi mereduksi realitas yang sejatinya komplek dan rumit,  sebatas lingkup keyakinan teori yang dianut.   Kemudian dengan gampang mengklaim bahwa apa yang sungguh terjadi adalah salah,  buruk,  tak pantas,  karena teori yang kita gunakan menjustifikasi keyakinan tersebut.