Opini

Surat Terbuka (tentang Sultan Hamid II) untuk Rakyat Jelata dan Para Pemimpin Negara Jelang HUT ke-75 Republik Indonesia Tercinta

Surat Terbuka (tentang Sultan Hamid II) untuk Rakyat Jelata dan Para Pemimpin Negara Jelang HUT ke-75 Republik Indonesia Tercinta
Umbul-umbul yang terpasang dalam gerakan rakyat di bumi khaTULIStiwa dan merebak ke Kalbar serta belahan kepulauan Nusantara

Hamid meninggalkan satu kebanggaan bersama bagi kita anak-anak Bangsa, yakni Lambang Negara. Elang Rajawali Garuda Pancasila. Garuda di dada kita. Garuda di ijazah kita. Garuda di paspor kita. Garuda di surat nikah kita. Garuda di mana-mana seantero Nusantara. Sejak 11 Februari 1950 karya adiluhungnya ditetapkan Bung Karno selaku Presiden Republik Indonesia Serikat melengkapi struktur ketata-negaraan Indonesia Merdeka insya Allah sampai kiamat kita bersama universalitas makna-makna di dalamnya.

Ada bintang simbol keesaan Tuhan. Ada rantai kemanusiaan yang adil dan beradab. Ada beringin persatuan Indonesia. Ada kepala banteng tanda kerja keras, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan. Ada padi dan kapas butir nilai universal: keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ngeri kita jika menatap kembang sayap 17 keemasan, dengan ekor 8 (agustus) serta bulu leher yang ’45. Negara Merdeka 17-8-45.

Bergidik kita merenungkan 75 tahun Indonesia Merdeka tidak pernah ada ucapan terimakasih sepatah-katapun dari Presiden? Dari Menteri Sosial yang mengurus gelar kepahlawanan? Dari Dewan Gelar yang bisa buka buku-buku sejarah dan artefak YouTube lintas kampus, lintas perpustakaan, lintas museum? Bahkan di museum negeri kita sendiri Museum Konferensi Asia Afrika yang bertahun-tahun lalu telah mengakui Sultan Hamid II berjasa merancang Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila?!