Dalam kondisi duka, Sultan Hamid meroket cita nasionalisme kebangsaannya atas derita rakyat akibat penjajahan. Ia di umur muda ia berhasil memimpin 15 negara bagian seluruh Indonesia dan kasih bubuh tanda-tangan di KMB-Den Haag – Belanda dengan keberhasilan pengakuan kedaulatan dari Ratu Wilhelmina. Jika bukan karena kedekatan dan nasionalisme kebangsaan Indonesia dari hati nurani terdalam Sultan Hamid–kemudian KMB gagal–maka perang berkecamuk di Indonesia dengan Belanda serta sekutu-sekutunya. Pahlawan yang seangkatan dengannya–sudah harum namanya di Taman Makam Pahlawan–mungkin tak sempat bernapas menghirup udara kemerdekaan sebagai menteri dll karena gugur berperang. Kita juga demikian, akan terus jadi warga terjajah–setidaknya akan semakin banyak harta dan nyawa melayang.
Sultan Hamid pantas dinobatkan sebagai Pahlawan Diplomasi. Sultan Hamid bisa disaksikan tampil bicara berapi-api dengan patriotik nasionalisme republiken–yang jauh dari kebelanda-belandaan–toh istrinya Didi Van Delden adalah blasteran antara Kapten Van Delden dengan anak turunan Kerajaan Bugis–Sidenreng–Sulaesi Selatan.
Segala tuduhan terlibat APRA Westerling jelas tidak terbukti secara hukum, Hamid pun tetap menerima dengan sabar. Ikhlas. Semua keputusan politik kepaanya.
