Meski saya kenal Ira sejak lama, dan tak pernah ragu akan integritasnya, saya masih berdecak. Saat itu. Dan, juga saya malu sendiri.
Lebih-lebih, saat beriringan di terminal bandara, saling nanya nginap di mana. Saya bilang di lokasi acara, Inna Garuda. “Aku di Amaris,” kata Ira.
Saya kembali tercenung. Inna Garuda bintang 4. Saya pilih menginap di situ, karena di lokasi acara. Ira, di Amaris yang bintang 2.
Dan, saya makin tercenung, ingat Dirut saya. Dirut BUMN saya, yang labanya 1/70 laba ASDP, nginap di Hotel Tentrem. Hari itu, tarif Tentrem hampir 5 kali lipat tarif Amaris.
“Acara kita kan seharian. Hotel muk gawe turu,” kata Ira, berbahasa Jawa yang artinya Hotel cuma buat tidur.
Saya, terkesiap. Saat itu.
Meski, ternyata itu bukan kali pertama saya tercenung, lalu terkesiap, dan berdecak. Dengan sikap Ira.
Dan, tentu saja bukan pula yang terakhir.
Karena, beberapa kali bertemu Ira lagi, saya kembali terkesiap, tercenung dan berdecak.
Seperti saat tahun 2023. Saat itu, Maret 2023, ada teman nikahin anaknya. Di Malang. Ira, saya, sama-sama diundang. Juga beberapa teman-teman lain di luar Malang. “Nginep nang omahku wae. Kene ngumpul, crito-crito,” kata Ira. Menginap di rumahku saja. Berkumpul. Cerita-cerita, itu ajakan Ira.

Sekedar menegaskan bahwa Dirut yg dimaksud dalam tulisan di atas adalah Dirut Perum Perindo periode 2018, yaitu Risyanto.