Cerpen

Sebab Engkau Pasir dan Engkau Akan Kembali Menjadi Pasir

Sebab Engkau Pasir dan Engkau Akan Kembali Menjadi Pasir

Oleh: Leon Waltermann*

Dia menunggu di antrean sebelah kiri. Di sebelah kanan seorang biksu tengah mengurus bagasinya, kotak-kotak kayu tua seperti dilemparkan dari masa lalu. “Mengapa seorang biksu membawa banyak barang, padahal di dunia yang singkat ini, dia tidak boleh memiliki apa pun?” batinnya dan ia menggeleng-gelengkan kepala.

Si biksu melihat ke arah dia dan pandangan mereka bertemu. Dia merasa tertangkap sedang mengamati biksu itu. Untuk membuat situasi menjadi tidak aneh, dia tersenyum dengan menurunkan kepalanya sedikit. Biksu itu tersenyum kembali dan mulai mendekati dia.

“Mengapa kamu hanya membawa begitu sedikit barang?” Tanya biksu.

Dengan berhati-hati dia menjawab karena takut salah berbicara. “Saya tidak perlu banyak barang,” ucapnya sambil tersenyum dan menurunkan kepalanya sedikit lagi.

“Sayang sekali! Tiket ini termasuk 30 kilo bagasi.” Jawabnya dengan suara ringan dan senyum tipis.

“Iya, benar.” Dia menjawab singkat semakin kikuk mengetahui biksu berbicara sesuatu yang berbeda dengan prasangkanya dan memancing penasaran. Berapa umurnya? Mau ke mana ia? Apa isi kotak-kotak itu? Pertanyaan yang banyak itu membuatnya merasa bersalah.