Sepertinya aku adalah peminat yang mendaki Jabal Nur, atau Bukit Cahaya. Pendakian di tengah siang bolong itu cukup menguji ketahanan fisik dan keteguhan mental. Di awal pendakian saja aku sudah dihadapkan pada jalan menanjak yang membentuk sudut lebih dari 30 derajat. Jalannya sendiri relatif lebar dan aman, namun semakin ke atas perjalanan semakin menuntut kehati-hatian dan kecerdikan. Sebab, selain tempat itu terjal sehingga berisiko tinggi untuk tergelincir. Sementara usia para pendaki pun beragam.
Perjalananku ke puncak bukit tersebut memakan waktu lebih kurang satu jam. Sebelum tiba di puncak Jabal Nur, waktu itu ada satu tempat peristirahatan yang cukup leluasa untuk melepaskan dahaga dan tentu melepaskan pandangan ke sekelilingnya.
Di puncak Jabal Nur banyak hal yang menarik perhatian. Sejumlah orang berdesakan untuk mencoba masuk ke Gua Hira. Juga nampak ada sejumlah peziarah yang melakukan shalat sunat di tempat itu.
Kenangan tak terlupakan bagiku, ketika itu dari puncak Jabal Nur, langit sedang dalam keadaan bersih tanpa awan, dan siang hari itu terlihat Masjid Haram secara samar-samar. Aku saat itu sangat menikmati segarnya udara di bukit Jabal Nur. Alhamdulillah, aku telah mencapai bukit simbol datangnya cahaya petunjuk bagi umat manusia, yakni di Jabal Nur.
