Selesai melaksanakan wukuf, berdiam di Padang Arafah pada 9 Dzulhijjah, setiap tahun sekitar dua juta jemaah haji secara serentak dan dalam waktu hampir bersamaan selepas shalat Maghrib, bergerak menuju Mina yang letaknya sekitar lima kilometer dari Arafah, untuk mengumpulkan batu kerikil pelempar jumrah di Mina.
Sedari berangkat dari Makkah untuk melaksanakan wukuf di Arafah pada 8 Dzulhijjah, dan seterusnya di Mina, jemaah haji memang kurang istirahat. Mungkin itulah sebabnya, dulu Almarhum Bapakku menganjurkan agar berhajilah selagi fisik masih kuat. Dan rasanya benar-benar anjuran yang patut diperhatikan dan dituruti.
Alhamdulillah, rasa suka cita mengiringi hampir semua kegiatan ibadahku selama di Tanah Suci. Allah SWT mengabulkan doaku dan doa kedua orangtuaku sehingga aku dapat mencium batu hitam Hajar Aswad yang berada di salah satu sudut Ka’bah pada saat aku melakukan tawaf umrah setiba dari Madinah.
Untuk dapat mencium batu hitam ini dibutuhkan perjuangan keras. Puluhan bahkan mungkin ratusan ribu jemaah haji yang sedang tawaf, tak terkecuali aku, mempunyai niat dan keinginan yang sama untuk mencium Hajar Aswad. Ada yang berhasil dan ada pula yang belum.
