Pergi haji masa kini serba praktis. Bekal yang diperoleh lewat beberapa kali mengikuti manasik haji dan membaca buku-buku tentang haji, cukup membuat hati mantap menunaikan rukun Islam yang terakhir ini. Sebagai jemaah calon haji aku memiliki keyakinan bahwa semua ibadah, dzikir, doa, dan permohonan ampun pasti dikabulkan Allah SWT. Pikirku, bukankah aku ke Tanah Suci untuk memenuhi panggilan Nya?
Labbaikallahhumma labbaik. Labbaika laa syariika laka labbaik. Innalhamda wanni’mata laka walmulka laa syariikalak. Aku datang memenuhi panggilan Mu Ya Allah, tiada sekutu bagi Mu. Ya Allah aku penuhi panggilanmu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat adalah bagi Mu semata. Segenap kerajaan untuk Mu, tiada sekutu bagi Mu …
Tiba di Mekkah setelah perjalanan panjang dari Tanah Air, aku langsung menunaikan ibadah umrah. Kelelahan perjalanan seakan hilang begitu melihat Ka’bah berada di depan mata. Aku merasa amat dicintai Allah hingga diizinkan melihat langsung Ka’bah, kiblat shalat yang selama di Indonesia tak pernah tampak langsung di depan mata.
Nikmatnya shalat langsung di depan Ka’bah merupakan campuran perasaan bersyukur, takjub, sekaligus kecil di antara sekian banyak orang yang memenuhi Masjidil Haram.
