Di hadapan Baitullah hatiku langsung mencelos, rasanya malu sekali. Tak terasa aku menangis sambil memandang Ka’bah. Aku merasa begitu kejam, tak tahu berterima kasih, dan tak bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah selama ini. Seketika itu aku merasa ada tangan menepuk-nepuk perlahan pundakku.
“Ya Allah, ampuni aku. Ya Allah, jadikanlah aku senantiasa menjadi makhluk Mu yang selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah Engkau berikan”, ucapku berulang kali sambil terus menangis dan memandang Ka’bah.
Ada hal atau kenangan menarik ketika aku melaksanakan wukuf di Arafah, dan bertemu dengan sepasang suami-istri muda, yang mengaku bekerja di pabrik tekstil di Tangerang. Bersama dua orang rekan lainnya, mereka berjalan kaki dari Makkah ke Padang Arafah dan ketika ditemui sekitat pukul 05.10 mereka baru saja tiba di depan Masjid Al Namirah.
Tidak saja suami-istri ini, ribuan jamaah haji lainnya juga berjalan kaki menuju Padang Arafah. Sekitar pukul 08.15 waktu setempat ketika itu, Arafah sudah dipadati hampir dua juta jamaah. Rombongan kami tiba di Arafah dengan bus full AC, dikawal mobil sekuriti yang tidak henti-hentinya membunyikan sirene meminta jalan. Suatu yang kontras memang.
