Ketika pertama kali berusaha mendekati Hajar Aswad, tubuhku yang tak seberapa berisi nyaris lumat terinjak-injak gelombang massa yang juga sama berusaha mencapai batu hitam ini. Di Rukun Yamani aku bermunajat kepada Allah SWT kiranya mengizinkan aku untuk mencium batu yang juga pernah dicium Nabi Muhammad SAW itu. Alhamdulillah, aku diperkenankan Nya untuk leluasa menyorongkan kepala dan muka ke cekungan batu licin tandas beraroma semerbak wangi tersebut.
Akhirnya, aku merasa malu kepada Rasulullah Muhammad SAW karena ajaran agama yang telah disampaikannya belum dapat aku amalkan sebagaimana mestinya. Rasanya Beliau SAW itu masih hidup dan melihat kelakuanku. Duhai Rasul, hamba mohon syafaatmu guna membebaskan diriku ini dari azab dan siksa api Neraka.
Begitulah, pengalaman setiap orang menunaikan ibadah haji pasti berbeda-beda. Aku pun mengalami hal yang mungkin belum pernah dialami oleh jemaah haji lain. Aku amat bersyukur diberikan nikmat oleh Nya. Al Qur’an, surat An Nahl ayat 18 menyebutkan, “Jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (*Syafaruddin DaEng Usman, sejarawan dan budayawan Kalbar)
