Inilah masjid yang amat indah dan megah. Seingatku, meski dalam jadwal rombongan ibadah Arbain, shalat fardlu 40 kali tanpa putus di Masjid Nabawi, baru dimulai subuh keesokan hari, tapi aku memulainya malam itu juga.
Berada di dalam masjid ini, perasaan yang muncul tidak ada yang lain kecuali damai, haru, dan dekat pada Allah, serta cinta yang bertambah-tambah pada Rasulullah Muhammad SAW. Bagiku, selebihnya adalah rasa kagum yang tak habisnya pada masjid yang memiliki arsitektur, eksterior, dan interior yang luar biasa indah ini.
Dengan telah kuziarahi makam Rasulullah SAW, telah shalat di Raudlah, manjalankan shalat Arbain, dan menikmati keberadaan Masjid Nabawi, sekaligus mengagumi keindahan arsitekturnya, maka lega rasanya aku meninggalkan kota yang juga dijuluki Madinat al Nabi, Kota Nabi.
Pengalamanku melaksanakan ibadah haji memang banyak, namun barangkali menikmati kesejukan ibadah di Masjid Nabawi dan merasakan panas terik luar biasa di Mina dapat menyimpulkan pengalaman tersebut.
Mina, setiap tahun hanya ramai pada waktu jemaah haji mabit, bermalam beberapa hari saja. Selebihnya, kota tua tempat Nabi Ibrahim melempari setan pengganggu dan tempat Nabi Ibrahim akan menyembelih putranya, Nabi Ismail, itu merupakan kota sunyi senyap tanpa penghuni.
