in

Musisi, Ilmuwan dan Sastrawan Indonesia Siap Tampil dalam Konser 107th Sultan Hamid

teraju.id, khaTULIStiwa— Sejarah baru segera terukir pada Minggu, 26/7/2020 nanti. Konser TV-Pool upaya meluruskan sejarah lewat pendekatan sastra sepanjang 12 jam akan menggetarkan pelataran musik dan sastra di seluruh pelosok Nusantara–dari Sabang sampai Merauke, dari Banda Aceh hingga Pulau Rote.

Siaran langsung (Live—channel YouTube teraju.id dengan registrasi link https://bit.ly/107SultanHamidII. Kuis Berhadiah / Doorprize menemani pemirsa yang diperkirakan menyita ribuan pasang mata se-Nusantara di tengah pandemi Covid-19. Bagi para guru dan mahasiswa disediakan e-sertifikat.

Rekor dalam bidang sejarah seorang negarawan diapresiasi oleh musisi cum budayawan, ilmuwan dan sastrawan berbagai provinsi di Indonesia. Yakni memperingati 107th Sultan Hamid sebagai figur penyatu bangsa lewat jasanya merancang Lambang Negara, sekaligus berperan aktif dalam diplomasi mendukung kuatnya NKRI pasca proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Negarawan itu lahir di Bumi khaTULIStiwa pada 12 Juli 1913 dan wafat di Jakarta tahun 1978 dimakamkan di Makam Batulayang, tak jauh dari Tugu Khatulistiwa–sebuah garis yang ditanamkannya di lambang negara Elang Rajawali Garuda Pancasila yang dihargai sebagai sebutan Jang Moelija oleh Presiden Soekarno dan diakui tegas oleh Dr Muhammad Hatta.

Acara konser akan dibuka dengan Sekapur Sirih melalui Tari Persembahan Sanggar Kijang Berantai dilanjutkan dengan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya bersama Violist kesohor Indonesia, Hendri Lamiri. Konser ini padat keilmuan dengan menghadirkan Pidato Kebudayaan ala Diplomat, Dr Saleh Alhinduan.

Konser tambah semarak dengan deklamasi “Ini Laba Sejarah Bangsa Indonesia” karya Emha Ainun Nadjib dibawakan sastrawan Kalbar Pradono dan Edi Purwanto. Acara akan terus bergulir dengan irama Syair Melayu didendangkan juara syair se-Kalbar, Khumaidi Mohan. Dulu, lambang negara tak diketahui riwayatnya, dan ditemukan di kediaman pamanda Khumaidi Mohan, yakni Ustadz H Asfiyah Mahyus (1994). Kekhasan Melayu juga mengalir lewat Pantun yang akan disajikan secara menarik oleh Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, cucu pejuang, Prof Dr Ir Gusti Hardiansyah, M.QAM. Irama musik sekelas Idris Sardi datang dari Kesultanan Serdang, Sumatera Utara.

Violis Tengku Ryo akan membawakan Pledoi. Diciptakannya khusus buat kisah hidup Sultan Hamid Alkadrie. Selanjutnya, giliran milenialis mengisi acara dengan News and Short Film by Selenophile – Kampoeng English Poernama, Pontianak Herritage dan Komunitas Sejarah (Kuwas). Pukul 15.30-16.30 Talkshow Otonomi Daerah menghadirkan ekonom Universitas Indonesia–kolomnis ekonomi Kompas Faisal Basri dan tokoh reformasi 1998, mantan Ketua DPR RI Fahri Hamzah.

Sesi talkshow masih akan diisi dengan Coding dalam Riset Sejarah bersama ilmuwan Very Firdaus. Acara peak session mulai diisi dengan Testimoni Pakar Sejarah-Tokoh Nasional dan Internasional serta Media Massa. Mereka antara lain:
Dr Rousdy Husein – Dr Muhammad Iskandar – JJ Rizal, SS – Prof Dr Hidayat Nur Wahid, Prof Dr Meutia Hatta – Prof Dr Hamid Darmadi – Dr Mahendra Petrus, MH – Turiman Faturahman, Nur, SH, M.Hum – Anshari Dimyati, SH, MH – H Nur Iskandar, SP – Ety Alkadrie – Arman Indo Pos – Syafaruddin Usman Mimbar Untan – Singkap Kompas – Angelique Kater – Katja Paijen – Sultan Melvin Alkadrie – Syarief Abdullah Alkadrie, SH, MH – Maman Abdurahman, SH – Alifuddin, SE – Hanafi Zamzam – Gubernur Kalbar H Sutarmidji, SH, M.Hum – Ambo Mangan, SH, MH – Sumardyansyah Perdana Kusuma – Yeti Alkadrie.

Acara puncak konser dibuka dengan Film Dokumenter Kemenlu RI cq. Museum Konferensi Asia Afrika kemudian dihibur Stand Up Comedy (Kamil Onte). Dai sejuta umat juga akan mewarnai konser digital 12 jam ini yakni Tausiah Ustadz Abdul Somad. Concert 107th Sultan Hamid menampilkan Hendri Lamiri – Puck Mude – Ario – Ifan Gofinda – Faisal – Ifan Seventeen sekira 20 lagu. (kan)

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

Dr Elias Tana Moning Sambut Positif Lahirnya IJP-Institute

Pluralitas Pontianak Disorot dari “Kampong Saigon”