Setelah kejadian itu, Bang Te saya dengar telah diakui sebagai guru besar. Ia menyandang gelar professor. Dan ketika saya menjadi moderator di rumah dinas wakil walikota soal pro-kontra nama Mujahidin sebagai Masjid Raya atau Masjid Agung menjelang peresmian rehabilitasi besar-besarannya oleh Presiden RI Joko Widodo, saya mempersilahkan Bang Te untuk bicara. “Silahkan Professor,” kata saya.
Bang Te dengan gaya bicaranya yang simple dan sistematis mengatakan bahwa gelar professor sudah dia dengar akan diberikan kepadanya, namun belum turun SK. “Dengan moderator menyapa seperti itu, semoga lebih cepat realisasinya. Terimakasih adinda Nur Iskandar,” ungkapnya waktu itu dengan bola mata menyipit, khas Bang Te.
Dua tiga tahun gelar professor disandang Bang Te beberapa kali saya dengar beliau sakit. Namun sakit itu dilawannya dengan penuh semangat bak jihad fi sabilillah. Beliau masih bisa tampil mengajar, riset dan seminar.
