Salah satu seminar yang saya hadiri di mana beliau tampil menyajikan hasil risetnya, bahwa, katanya, “Kita meriset soal Melayu. Eih ujung-ujungnya semua pemateri yang dikira Melayu adalah Bugis. Di mana saya yang disebut Melayu keturunan Bugis. Pak Munir yang disebut Melayu keturunan Bugis. Begitupula Nur Iskandar. Pun disebut Melayu padahal Bugis,” ungkapnya berseloroh dan memantik tawa hadirin di salah satu kelas Gedung IAIN. Bang Te sendiri mengupas kearifan lokal “naek tojang”.
Kenapa sapaannya Bang Te? Saya mengenal beberapa saudara Bang Te. Mulai dari Bang Fahrul Razi, Ridwan, hingga adik perempuannya Maulidiya. Mereka mengatakan, “Orang Melayu punya panggilan tradisi. Kalau abangnya hitam disapa Pak Tam. Kalau putih? Ya Pak Teh.” Maka jadilah pria berkulit putih itu disapa Bang Te (Puteh).
Sebagai adik “idiologis” yang belajar banyak dari Bang Te, saya merasa teriris pula ketika beliau terserang sakit. Salah satunya adalah fertiligo. Di mana beberapa bagian pigmen kulitnya meluntur.
Namun satu hal yang kembali saya pelajari dari beliau. Bahwa ia ikhlas menerimanya dengan kemampuan tampil “all out” di muka publik. Ujian dari Tuhan itu bukan dia jadikan alasan untuk menghindari diri dari tugas sebagai tokoh yang mesti berkecimpung di tengah medan laga utamanya konflik yang menghantui Kalbar.
