Ketika saya menimba ilmu di SMP Mujahidin (1986-1989), Haitami yang akrab disapa rekan-rekannya sesama guru dengan kata “Bang Te” mengajar di MTs Mujahidin. Antara kedua sekolah (SMP dan MTs) berdapingan dan satu atap perguruan, bahkan satu pagar, yakni Mujahidin.
Kalau Haitami Salim memberikan wejangan saat upacara bersama, sangat mudah dipahami, dimengerti, bahkan ada satu bonus: yakni semangat. Semangat beliau luar biasa terasa “nyetrum” sehingga menular.
Ketika saya memegang OSIS dan mengatur jadwal akademik kegiatan Pesantren Kilat atau Orientasi Remaja Masjid Mujahidin, maka Bang Te selalu saya minta memberikan materi “Jihad Fi Sabilillah”. Demikian agar semangat perjuangan sekalian menemukan landasan teologis sekalian sosiologisnya plus nyetrum dan menular di kalangan peserta.
Dari interaksi penyajian materi sekira hampir 40-an tahun lalu itu, saya mengetahui kecerdasan lebih Bang Te. Selain pemahaman agama, juga semangat toleransi. Di mana terminologi jihad fi sabilillah tidak diterapkan dengan mata buta. Tak pelak, Haitami Salim menjadi rujukan media massa sebagai salah satu narasumber jika terjadi konflik berlatar suku atau agama di Kalimantan Barat.
