Kedua adalah kekalahannya saat kontestasi Pilkada Kota dengan sistem pemilihan langsung buat pertama-kalinya. Sebagai tokoh dengan dukungan akar rumput yang nyata, kandidat “Bang Te” yang berpasangan dengan sesama akademisi, Gusti Hardiansyah, sangat diperhitungkan.
Dalam konsep hingga debat kandidat, Bang Te “leading”. Namun hasil akhir berkata lain. Bang Te gagal. Sutarmidji yang berpasangan dengan Paryadi menang. Namun lagi-lagi kegagalan yang menyayat hati tidak membuatnya mundur teratur dalam kancah pembinaan sosial kemasyarakatan. Bang Te terus berkiprah sampai napas terakhir dihembuskannya.
Kepergian tokoh Kalbar yang relatif muda (lahir 1965/52 tahun) ini membuat tokoh Kalbar lainnya di bidang pendidikan, Dr Leo Sutrisno memanjatkan doa. “Selamat jalan Prof. Jasa dalam membangun kerukunan antarumat beragama sungguh besar.”
Pernyataan akademisi yang satu ini sungguh tidak berlebihan. Bahkan Bang Te benar-benar contoh teladan dari sosok yang bertanggung jawab atas terwujudnya perdamaian.
Jenazah Bang Te menurut kabar keluarga dibawa ke rumah duka milik orang tuanya di Gang Naisyah Jalan Sepakat 1 di antara Jl Adi Sucipto dan Ahmad Yani. Almarhum akan disholat jenazahkan di Masjid Raya Mujahidin bada Jumat, dan akan dimakamkan di pemakaman keluarga Kampung Banjar, Pontianak Timur.
