Sultan Hamid kehilangan harta, dapat dilihat dari peninggalannya di Kesultanan Qadriyah dan Jakarta. Ia kehilangan tahta, berupa mahkota kesultanan, termasuk jabatannya di kabinet. Ia juga kehilangan wanita yang sangat dicintainya karena blasteran Belanda dan Kerajaan Sidenreng, Sulawesi Selatan. Hamid dengan rasa cinta mengirim istri dan dua anaknya kembali ke Belanda justru karena cinta dan dia rela berkorban dari harta, tahta dan wanita karena kecintaannya kepada bangsa dan negara yang dibelanya. Sultan Hamid tidak pernah menyusahkan NKRI dengan wafat husnul khatimah sambil bersujud.
Panitia teknis penjemputan dan pengantaran ke bandara juga meneteskan air mata. “Apa yang kita cari sepanjang hidup kecuali wafat husnul khotimah? Ini keturunan Rasulullah?!” ujar Muhammad Azdi.
Muhammad Azdi menukil sebuah riwayat. “Sultan Hamid mencontoh akhlak mulia Rasulullah dan para sahabatnya. Biarlah tidak populer di dunia bahkan dihina sebagai pengkhianat di bumi, namun terkenal dan disambut jutaan malaikat di langit.” begitu imbuhnya seraya menyeka air mata. Air mata haru demi menyambung kisah tentang keteladanan, nasionalisme, dan patriotisme seorang Sultan Hamid dan amat jarang didengar atau diketahui publik Nusantara. (kan)
