Sang vionies itu mendedikasikan hidupnya untuk suatu nilai hidup yang diyakininya.
Di pagi hingga petang hari, beliau menuangkan karya sketsa bangunan, komposisi skala dan warna, serta tulisan plank bangunan.
Di malam hari, sang seniman membisikan komposisi irama biolanya di cafe, bar, gedung pertemuan bahkan di rumah-rumah para pembesar Belanda dan Jepang hanya untuk membaca gerak gerik dan berbagai rencana yang dapat merugikan rakyatnya. Suatu informasi berharga yang dapat ia berikan kepada para pejuang kaum Kampung Luar.
Darah dan semangat perjuangannya telah mengalir di setiap relung dan ritme nadinya seperti sang Moyang Pangeran Syarif Hamid Alqadrie yang dibuang oleh Belanda di Batavia. Sang moyang dimakamkan di komplek Mesjid Jamik Angke bersama para syuhada lainnya seperti Tu Bagus Angke.
Sedangkan dirinya hingga saat ini tiada diketemukan jasadnya dan dikuburkan bersama sama para syuhada lainnya di pemakaman massal Mandor, korban keganasan tentara Dai Nippon.
Wassalam
Pontianak, 3 Oktober 2020
di Kampung Parit Besak belah Darat, parit melintang Belah Hilir, gang Nurden.
Tulisan dari Roosandrie Dean Viejaya
